Bab 3. Mengintip Dapur Para Startup

1. Startup 

Startup adalah sebuah perusahaan rintisan atau perusahaan yang belum lama beroperasi, tetapi saat ini istilah ‘startup lebih sering dikaitkan pada perusahaan yang berkaitan dengan dunia online yang memulai bisnisnya dari bawah, jadi istilah ‘startup’ tidak lagi bicara tentang perusahaan yang umurnya masih baru. 

Big Data

Untuk mengembangkan diri menjadi besar, perusahaan startup membutuhkan sumber pendanaan (modal), oleh karena itu perusahaan startup biasanya mencari pemodal ventura atau investor untuk mendanai perusahaan.

Ada cara pandang yang berbeda saat investor tertarik mendanai perusahaan startup. Biasanya saat mendanai perusahaan konvensional, investor mempertimbangkan banyak aspek, seperti nilai perusahaan di bursa saham, nilai dari jenis saham lain yang dimiliki perusahaan, utang perusahaan, uang tunai yang dimiliki perusahaan hingga laba perusahaan. Tetapi pada perusahaan startup, pendanaan diberikan berdasarkan potensi pertumbuhan dan perkembangan bisnis dalam jangka waktu panjang.

Pencapaian awal perusahaan startup memang bukanlah keuntungan financial atau profit, tetapi ‘big data’. Pengertian ‘big data’secara sederhana adalah sejumlah data bervariasi yang terus-menerus masuk dengan cepat pada suatu perangkat sistem pengelola data perusahaan yang jumlahnya sangat besar. Big data milik perusahaan tentunya sangat berguna untuk bermacam-macam kepentingan bisnis, diantaranya seperti menilai perusahaan, memprediksi prospek perusahaan, hingga menerapkan strategi.

Misalnya bagi Tokopedia, big data adalah sejumlah data sebagaimana penjelasan tadi, khususnya yang berkaitan dengan merchant, konsumen dan pihak-pihak lain, termasuk data segala aktivitas mereka di dalam platform.

Jika para investor menilai big data Tokopedia sangat kuat, walau laporan keuangannya anggap saja belum menunjukkan keuntungan, tapi tetap saja investor tertarik untuk memberikan suntikan dana.

Investor telah melihat Tokopedia berhasil memiliki 509 merchant dengan 4.560 member hanya satu bulan setelah berdiri, lalu di tahun pertama berhasil memiliki 4.659 merchant dengan 44.785 member. Rupanya investor melihat angka ini sebagai perolehan big data yang sangat prospektif.

Tetapi apakah cukup realistis menyuntikkan dana besar hanya berdasarkan big data? Kita akan coba menganalisanya secara sederhana dengan mengambil contoh Tokopedia, untuk mengetahui apakah para investornya di masa lalu telah mengambil langkah bunuh diri atau sebaliknya.

Saat ini menurut berbagai media online, Tokopedia telah memiliki 7,5 juta merchant, anggap saja tiba-tiba Tokopedia memberlakukan fee untuk setiap transaksi senilai Rp 1000 saja, dan anggap pula para merchant hanya mampu melakukan satu transaksi saja setiap hari, maka :

  • Jika 10% dari merchant mampu bertransaksi, maka Tokopedia mendapat fee 750 juta per hari, Rp 22,5 miliar per bulan, Rp. 675 miliar per tahun.
  • Jika 20% merchant mampu bertransaksi, maka Tokopedia mendapat fee 1,5 miliar per hari, Rp. 45 miliar per bulan, Rp. 1,35 triliun per tahun.
  • Jika 25% merchant mampu bertransaksi, maka Tokopedia mendapat fee 1,875 miliar per hari, Rp. 56,25 miyar per bulan, Rp 1,6875 triliun per tahun.
  • Jika 50% merchant mampu bertransaksi, maka Tokopedia mendapat fee 3,75 miliar per hari, Rp. 112,5 miliar per bulan, Rp. 3,375 triliun per tahun.
  • Jika 75% merchant mampu bertransaksi, maka Tokopedia mendapat fee 5,625 miliar per hari, Rp. 168,7 miliar per bulan, Rp. 5,0625 triliun per tahun.

 

Jangan lupa hitungan tadi adalah jika masing-masing toko-toko hanya mampu melakukan satu transaksi saja setiap hari, padahal tentu saja toko seharusnya mampu melakukan banyak transaksi dalam satu hari. Anda bisa menambahkan satu digit lagi angka nol di belakang angka-angka di atas, jika menurut anda toko-toko seharusnya mampu melakukan 10 transaksi dalam satu hari.

Kita akan coba hitung dengan cara lain yang lebih sederhana. Menurut informasi dari berbagai media online, Tokopedia optimistis bahwa nilai transaksi yang ditanganinya akan tembus Rp 222 triliun pada akhir 2019.

Anggap saja Tokopedia berhasil menembus angka tersebut. Bagaimana jika Tokopedia memberlakukan fee 1% saja dari nilai transaksi? Tokopedia mendapat Rp 2,22 triliun! Bagaimana jika fee-nya dinaikkan jadi 2%, 3%, 4% atau 5%? Silahkan anda hitung sendiri. Kira-kira itulah yang dihitung saat investor melihat ‘big data’, sekarang sudah setujukah anda dengan kegilaan para penyuntik dana itu?

Tetapi jangan lupa, hitungan-hitungan tadi hanyalah gambaran sederhana. Lalu bagaimana sebenarnya cara Tokopedia dan para e-commrerce marketplace lain mendapat keuntungan? Tentu saja setiap perusahaan memiliki cara masing-masing untuk mengolah ‘big data’ mereka. Kita akan sedikit membahas melalui contoh cara Tokopedia.

  • Para merchant yang menjadi Member Official Store Tokopedia dikenakan fee hingga 15% dari setiap produk yang terjual dan biaya bulanan. Saat ini Tokopedia telah memiliki lebih dari 3000 member Official Store.
  • Para merchant yang menjadi Member Power Merchant dikenakan fee 1% dari setiap produk yang terjual.
  • Tokopedia juga menawarkan Top Ads bagi merchant yang ingin tokonya tidak berada di halaman yang jauh dari pencarian pengunjung dengan cara perhitungan bidding keyword seperti Google search engine.
  • Tidak hanya untuk merchant, para penyedia jasa pengiriman (logistik) juga dikenakan fee dari setiap biaya pengiriman barang.

 

Bagi para merchant yang sudah biasa berdagang di toko nyata, angka tersebut masih terbilang kecil dibanding sewa toko, biaya listrik dan sebagainya. Begitu pula bagi penyedia jasa pengiriman (logistik), walau dikenakan biaya tetapi hingga saat ini sektor e-commerce masih menjadi sumber pendapatan terbesar mereka.

Kini kita bicara tentang ‘big data’ dari sisi jenis bisnis online yang lain. Google adalah salah satu contoh pengelola big data yang sangat menakjubkan. Bagi kita yang awam mungkin sering bertanya, untuk apa Google terus melahirkan atau mengakuisisi produk-produk inovasi internet yang bisa kita gunakan tanpa membayar atau gratis? Ternyata selain Google telah membuat hampir semua orang bergantung pada produk-produknya, tanpa kita sadari, Google juga telah merekam pola kegiatan para penggunanya di internet. Untuk apa?

Google mengumpulkan big data, sehingga Google tahu kategori produk dan jasa apa saja yang paling sering dicari, dari brand mana, harganya berapa, siapa saja para pembeli produk, dari lokasi mana, berapa usianya, apa jenis kelaminnya, dari kelas sosial mana, dan sebagainya. Dan tahukah anda bahwa Google sangat mengenal anda? Google tahu hal apa saja yang sering anda cari di internet melalui kata-kata yang anda ketik di Google search engine, jenis situs apa saja yang anda akses melalui Google Chrome, tayangan video apa yang anda sering tonton melalui Youtube, aplikasi seluler apa saja yang anda pakai melalui Google Play, lokasi mana yang sering anda kunjungi dan jalan yang sering anda lewati, gara-gara anda sering minta petunjuk Google Maps, dan sebagainya.

Baiklah ternyata Google sangat kepo! Tapi apakah Google mendapatkan keuntungan finansial dari perburuan informasi tersebut?

Pasti! Salah satu yang mengambil manfaat dari data-data tersebut adalah sektor periklanan Google, yaitu Google Ads. Dengan menguasai data, Google Ads berhasil membuat shifting besar-besaran di dunia periklanan, khususnya dari media televisi, radio, dan cetak mulai beralih ke media online milik Google.

Data-data pengguna membuat beriklan di Google Ads sangat tepat sasaran dan terukur, kita akan membahasnya lebih jauh pada bab selanjutnya tentang periklanan online. Setidaknya dalam bahasan kali ini, kita sudah menyadari bahwa menggunakan produk-produk Google, Facebook, Instagram, Twitter itu tidak sepenuhnya gratis, karena kita menukarnya dengan ‘big data’.

 

Buku Bisnis Online - Ecommerce | Era Bisnis Online - Anak Muda vs Raksasa Bisnis (penulis, Indra Wibawa)

Trendingbisnis.com - Informasi Bisnis Online

 


Temukan di Google Play Book Novel Romantis & Religius

Al Kahfi Land - Menyusuri Waktu 

Temukan di Google Play Book Buku Penting Untuk Semua Pebisnis

Era Bisnis Online - Anak Muda vs Raksasa Bisnis

Temukan di Google Play Book Novel Romantis & Religius

Al Kahfi Land - Dua Sisi 2040 

Media Islam Inspiratif

Sajadalife.com