Bisnis Online - E Commerce

Bab 2. Pilih Ikut atau Tumbang?

Beradaptasi Pada Perubahan Atau Berlindung Di Bawah Payung Regulasi?

Perkembangan pesat teknologi online seringkali mendahului kesiapan regulasi. Gojek mendadak hadir menyelip di tengah-tengah bisnis transportasi, rupanya masyarakat pun langsung jatuh cinta, padahal belum ada regulasi khusus di dunia transportasi yang mengatur benda baru bernama ojek online.

Tak lama kemudian pemain lama di dunia transportasi ramai-ramai menghadang Gojek, bukan cuma karena masalah merebut penumpang, Gojek juga dianggap melanggar kebijakan regulasi pemerintah tentang transportasi. Sementara dari pihak Gojek, mereka merasa tidak melanggar regulasi apa pun, pertama karena regulasi yang ada pastinya memang belum menyentuh hal online, kedua Gojek tidak mendefinisikan dirinya sebagai perusahaan transportasi, mereka menyebut dirinya sebagai perusahaan teknologi aplikasi yang mempertemukan demand dengan supply atau marketplace, buktinya mereka sama sekali tidak memiliki kendaraan umum untuk disebut sebagai perusahaan transportasi.

Inovasi Gojek tak berhenti di situ, setelah mengantar orang, Gojek juga mengantar barang. Kali ini bisnis Gojek bersinggungan dengan perusahaan logistik, seperti JNE, JNT, Tiki dan sebagainya, Gojek menyelip menjadi salah satu alternatif pilihan pengiriman barang, tetapi untungnya tidak terdengar ada kegaduhan dari perusahaan-perusahaan kurir, mungkin karena inovasi Gojek masih hanya mengambil jatah pengiriman barang jarak dekat atau di dalam kota (same day dellivery).

Dalam perkembangannya Gojek semakin banyak menghadirkan inovasi-inovasi lain tetapi pemain-pemain konvensional yang bisnisnya bersinggungan sudah semakin sulit untuk protes, pertama karena pasar selalu mendukung inovasi-inovasi baru dari startup manapun yang menguntungkan mereka, kedua dengan inovasi Gojek yang terus menggurita di berbagai bidang, maka semakin menegaskan bahwa mereka benar-benar perusahaan teknologi, bukan perusahaan transportasi, bukan perusahaan logistik, bukan perusahaan jasa bersih-bersih, dan bukan perusahaan di bidang apapun yang merasa pasarnya terebut.

Di bidang bisnis lain, Airbnb hadir mengusik bisnis penginapan. Pengelola bisnis hotel juga menuduh startup baru ini tidak mengikuti regulasi dan bersaing dengan tidak sehat. Pesaing baru di bisnis penginapan ini merebut pasar tanpa memiliki kamar atau rumah penginapan, mereka hanya mengumpulkan sejumlah pemilik rumah atau apartemen yang tidak dihuni.

Bagaimana mungkin hal tadi tidak membuat pengelola bisnis hotel kelabakan? Hotel harus bersaing harga melawan rumah atau apartemen yang menganggur. Ujung-ujungnya pemain lama mempertanyakan regulasi.

Di bidang lainnya lagi, perusahaan jasa keuangan bank dan non bank juga berhadapan dengan para startup fintech. Sejumlah startup fintech berizin dan yang masih dalam proses perizinan OJK, termasuk fintech ‘bodong’ muncul menawarkan jasa keuangan yang menjanjikan kemudahan dan kecepatan, bahkan  melayani masyarakat yang belum bankable (tidak memilki rekening di bank). Teknologi online kembali mendahului regulasi, masyarakat telanjur menyambut fintech.

Fenomena disruption memang menakutkan dan terasa tidak adil bagi pemain lama yang sudah bersusah-payah membangun infrastruktur dan tunduk pada aturan regulasi pemerintah, tetapi melawan startup dengan berlindung dibalik payung regulasi tanpa membenahi masalah sesungguhnya pada internal perusahaan merupakan sesuatu yang konyol, karena pasar tidak mungkin meninggalkan incumbent jika eksistensi mereka lebih dibutuhkan ketimbang underdog, selain itu, cepat atau lambat regulasi pasti akan dibuat, dan pada akhirnya regulasi itu akan berpihak pada kelompok yang lebih menguntungkan pembuat regulasi dan masyarakatnya.

Lalu apakah kehadiran para startup menguntungkan pemerintah? Rasanya boleh dikatakan, bahwa kehadiran Gojek, selain membuat pemerintah bangga memiliki perusahaan decacorn karya anak bangsa, Gojek juga telah membantu mengerjakan pe-er pemerintah untuk menemukan solusi cepat mengatasi masalah ketersediaan lapangan kerja dan menghadirkan alat transportasi yang cepat dan murah (kondisi harga pada saat awal kehadiran Gojek). Tokopedia dan Bukalapak juga membantu pemerintah melahirkan para entrepreneur atau pedagang yang terbentur masalah modal dan tempat berdagang. Kehadiran para startup fintech juga telah membantu pemerintah menemukan solusi cepat untuk mendongkrak penetrasi keuangan di Indonesia. Lalu mana yang lebih masuk akal, menunggu regulasi atau segera beradaptasi pada perubahan?

 

Buku Bisnis Online - Ecommerce | Era Bisnis Online - Anak Muda vs Raksasa Bisnis (penulis, Indra Wibawa)

Trendingbisnis.com - Informasi Bisnis Online

 


Temukan di Google Play Book Novel Romantis & Religius

Al Kahfi Land - Menyusuri Waktu 

Temukan di Google Play Book Buku Penting Untuk Semua Pebisnis

Era Bisnis Online - Anak Muda vs Raksasa Bisnis

Temukan di Google Play Book Novel Romantis & Religius

Al Kahfi Land - Dua Sisi 2040 

Media Islam Inspiratif

Sajadalife.com