Bisnis Online - E Commerce

Bab 2. Pilih Ikut atau Tumbang?

Sharing Economy atau Collaborative Consumption?

Istilah ‘sharing economy’ terlanjur populer, tetapi penyebutan ‘sharing economy’ untuk kegiatan yang telah dijelaskan tadi sebenarnya ditolak oleh beberapa ahli.

Menurut Giana M. Eckhardt dan Fleura Bardhi dalam sebuah artikel di Harvard Business Review, ‘sharing economy’ adalah istilah yang keliru. Ia mengatakan, saat sebuah perusahaan menjadi perantara antara supply dan demand, lalu konsumen harus membayar, maka itu bukanlah kegiatan sharing (berbagi), istilah yang tepat untuk kegiatan tersebut adalah ‘access economy’.

Michael Bauwens, pencetus teori peer to peer (P2P), mengatakan istilah ‘sharing economy’ sering disematkan pada perusahaan yang tidak tepat, misalnya pada Uber. Menurutnya ‘sharing economy’ seharusnya tidak menempatkan partner berbaginya seolah memiliki struktur hierarki top-down, kenyataannya Uber mengendalikan partner berbaginya bahkan menentukan tingkat pendapatan mereka.

Majalah Time pada tahun 2011 menjelaskan konsep ‘sharing economy’ dengan istilah ‘collaborative consumption’, meminjam istilah yang dibuat Marcus Felson dan Joe L. Spaeth dalam makalah mereka ‘Struktur Komunitas dan Konsumsi Kolaboratif’ tahun 1978.

Boleh disimpulkan sebenarnya masalah penolakan istilah sharing economy adalah karena kata ‘sharing’ dianggap tidak cocok untuk kegiatan bisnis atau lebih cocok untuk kegiatan sosial atau CSR (Corporate Social Responsibility). Atau karena kata-kata ‘sharing economy’ menimbulkan kesan bahwa ini adalah kegiatan membuat perusahaan bersama-sama yang keuntungannya akan dibagi bersama-sama, seperti halnya koperasi. Kenyataannya perusahaan cuma dimiliki oleh pihak pemilik platform saja, sedangkan pihak yang meminjamkan aset akan tetap menjadi pihak luar dan hanya mendapat keuntungan jika aset mereka terpakai oleh konsumen.

Di Indonesia, Prof. Rhenald Kasali, guru besar bidang Ilmu manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, tampaknya tidak mempersoalkan perbedaan pendapat soal bahasa dalam istilah ‘sharing economy’ saat menjelaskan model bisnis baru yang fenomenal ini, ia pernah mengatakan, “hari ini kita bergerak dari model owning economy ke arah sharing economy”.

Kita juga akan menggunakan istilah ‘sharing economy’ karena lebih populer. Yang jelas saat ini ada sebuah model bisnis baru yang menjungkir-balikkan bisnis gaya kapitalisme.

Dalam pandangan kapitalisme pengusaha harus menguasai perangkat modal karena keuntungan usaha itu sepenuhnya merupakan hak pemilik modal. Sebaliknya dalam sharing economy, modal bisa diraih dengan bekerja sama, yaitu mengumpulkan pihak-pihak lain yang punya aset menganggur.

Airbnb dapat menyewakan tempat penginapan tanpa memiliki rumah, Gojek menawarkan jasa transportasi tanpa memiliki kendaraan, Tokopedia memiliki pasar hanya dengan menampung para pedagang tanpa membuat bangunan pasar, Ethiscrowd membangun properti dengan mengumpulkan pemodal online, dan sebagainya.

Kenapa para pemilik aset tersebut mau? Karena tanpa Airbnb, rumah-rumah kosong itu tidak menghasilkan uang. Tanpa Gojek, para pengojek kehabisan waktu menunggu di pangkalan. Tanpa Tokopedia, para pedagang kecil tidak punya modal menyewa tempat berdagang. Tanpa Ethiscrowd, para pemodal tidak tahu mau investasi kemana, dan sebagainya.

 

Kerja Sama Bisnis Dalam Sharing Economy

1. Collaboration Asset

Pemilik platform bekerja sama dengan pemilik aset menganggur, yaitu: 

a. Menyewakan Aset Investasi

Aset investasi adalah aset yang dibeli bukan untuk digunakan, tetapi untuk dijual lagi setelah mengalami kenaikan nilai yang signifikan. Oleh sebab itu sambil menunggu waktu yang tepat, aset tersebut dapat disewakan, contoh  :

  • Tanah yang tidak terpakai dapat disewakan pada pebisnis dibidang pertanian, perkebunan, peternakan dan sebagainya.
  • Properti, seperti rumah dan apartemen. Properti yang tidak ditempati dapat disewakan pada orang-orang yang butuh tempat tinggal atau menginap. 

b. Menyewakan Barang Okasional

Barang Okasional adalah barang yang jarang digunakan pemiliknya, contoh  :

  • Kendaraan yang dipakai pemiliknya hanya saat akhir pekan atau libur dapat disewakan saat tidak terpakai.
  • Baju-baju tematik yang dipakai pemiliknya hanya untuk acara khusus seperti pakaian adat, pakaian halloween dan sebagainya dapat disewakan saat tidak terpakai .
  • Perhiasan mahal seperti berlian, emas, mutiara dan sebagainya yang dipakai pemiliknya hanya pada acara khusus dapat disewakan saat tidak terpakai.
  • Alat rumah tanggga yang hanya dipakai saat diperlukan saja, seperti genset, mesin bor dan sebagainya dapat disewakan saat tidak terpakai. 

c. Menjual Atau Menyewakan Barang Bekas

Barang bekas adalah barang yang sudah tidak lagi digunakan oleh pemiliknya, contoh  :

  • Barang sekali pakai.

Misalnya gaun pernikahan bagi orang-orang kelas atas. Biasanya mereka tidak menyewa gaun pernikahan tetapi memesan khusus kepada fashion designer terkenal. Gaun pernikahan tersebut biasanya hanya dipakai satu kali, maka bisa disewakan atau dijual. Begitu pula buku-buku kuliah atau sekolah.

  • Barang yang tidak diinginkan lagi oleh pemiliknya karena ingin menggantinya dengan yang baru.

Misalnya furniture lama yang masih bagus. Kantor atau orang yang ingin mengganti semua furniture dengan yang baru, maka furniture lama dapat dijual.

  • Barang yang tidak diinginkan lagi oleh pemiliknya karena ingin selalu uptodate.

Misalnya pemilik perangkat elektronik seperti smartphone, komputer dan sebagainya yang selalu ingin menggunakan teknologi terbaru, maka dapat dijual.

 

2. Crowd Funding 

Pemilik platform mengumpulkan dana dari para pemilik modal kecil sehingga menjadi modal besar (patungan) untuk berinvestasi pada suatu barang, tempat atau proyek yang berpotensi bagus 

a. Patungan Membeli Barang

Patungan membeli barang yang dipakai saling bergantian atau disewakan, contoh :

  • Barang mewah sebagai prestise

    Misalnya patungan membeli pesawat jet pribadi untuk mengangkat citra pribadi atau perusahaan. 

  • Barang kebutuhan bersama

    Misalnya patungan membeli bis, tenda acara, sound sistem dan sebagainya.

b. Tempat Bersama (Co-Working Space)

Patungan membeli tempat yang bisa dipakai bersama atau saling bergantian atau disewakan

Misalnya, membeli kantor didaerah strategis sangat mahal dan kadang tempatnya terlalu besar untuk dipakai sendiri, maka dengan dipakai bersama-sama maka biayanya bisa ditanggung bersama-sama. 

c. Bisnis bersama

Patungan mendanai bisnis yang hasilnya dibagi bersama.

Misalnya, pemilik platform mempunyai ide bisnis atau ada pihak lain yang punya ide bisnis yang diyakini akan menguntungkan, maka pemilik platform mencari para calon pemodal untuk mendanai bisnis tersebut.

 

3. Peer to Peer Lending

Pemilik platform mengumpulkan dana dari para pemilik modal kecil sehingga menjadi modal besar (patungan) untuk dipinjamkan kepada orang yang mengajukan pinjaman dana

 

4. Collaboration Skill

Pemilik platform mengumpulkan orang-orang yang memiliki skill.

 

 

Buku Bisnis Online - Ecommerce | Era Bisnis Online - Anak Muda vs Raksasa Bisnis (penulis, Indra Wibawa)

Trendingbisnis.com - Informasi Bisnis Online